Legenda Adzan Pitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Legenda Adzan Pitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Ada tradisi unik yang hingga saat ini tetap lestari di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, di Kawasan Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Setiap shalat Jumat, lantunan adzan tidak dilakukan oleh hanya satu orang, melainkan tujuh orang sekaligus secara bersamaan, yang dikenal dengan tradisi adzan pitu.

Mereka mengenakan pakaian khusus. Enam orang muadzin mengenakan jubah berwarna hijau dan serban putih. Sedangkan satu orang berubah putih dan bersorban hitam. Terkadang, ketujuh muadzin juga menggunakan jubah dan sorban berwarna putih. Jubah ini harus dikenakan setiap melantunkan adzan pitu sebagai penanda dan pembeda dengan jemaah lainnya. Meski dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan, lantunan adzan pitu tetap terdengar baik. Panjang pendek nada adzan ke tujuh muadzin adzan pitu ini terdengar seirama. Mereka juga kompak menjaga keseimbangan tinggi rendahnya nada.

adzan pitu pertama kali dilakukan pada zaman Sunan Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah. Salah satu istrinya yaitu Nyimas Pakungwati yang merupakan putri Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana terkena wabah penyakit. Wabah itu juga menyerang sejumlah warga Cirebon di sekitar keraton. Beberapa upaya dilakukan untuk menghilangkan wabah tersebut, tetapi hasilnya selalu berujung kegagalan. Akibatnya banyak rakyat Cirebon yang meninggal dan jatuh sakit.

Setelah berdoa kepada Allah, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mendapatkan petunjuk bahwa wabah di tanah Caruban atau Cirebon tersebut akan hilang dengan cara mengumandangkan adzan yang dilantunkan tujuh orang sekaligus. Sunan Gunung Jati akhirnya berikhtiar dengan bertitah kepada tujuh orang agar mengumandangkan adzan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai upaya menghilangkan wabah tersebut.

Dalam salah satu babad Cirebon, wabah penyakit di Cirebon datang karena kiriman dari seorang pendekar ilmu hitam, Menjangan Wulung yang sering berdiam diri di momolo (kubah) masjid. Ketidaksukaannya terhadap syiar Islam di Cirebon membuatnya menyebarkan wabah dan setiap muadzin yang melantunkan adzan mendapatkan serangan hingga meninggal.

Dalam salah satu versi, babad Cirebon tulisan Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, saat Sunan Gunung Jati memberikan titah tujuh orang sekaligus melantunkan adzan ketika waktu Subuh, suara ledakan dahsyat terdengar dari bagian kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada 1480 Masehi. Ledakan itu membuat Menjangan Wulung yang berdiam diri di kubah masjid terluka. 

Sementara kubah Masjid Agung Sang Cipta Rasa terpental hingga ke Banten dan menumpuk di kubah Masjid Agung Serang Banten. Karena itu, hingga kini Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sementara Masjid Agung Serang Banten memiliki dua kubah.

Nurdin yang merupakan wartawan senior desk budaya lebih menafsirkan 7 muadzin tersebut sebagai cermin dari majemuknya mazhab Islam di Cirebon. “Adzan pitu merupakan hasil ijtihad para ulama terdahulu”, terangnya.

Kemajemukan masyarakat Cirebon terlihat dari arsitektur bangunan kuno termasuk di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini memiliki dua pintu masuk, salah satunya gerbang utama yang memiliki dua daun pintu. Di masing-masing daun pintu terdapat hiasan dengan motif teratai, simbol ini menandakan akulturasi budaya Hindu-Budha.

Sedangkan di atas gerbang terdapat tulisan arab. Begitu memasuki pintu utama, jemaah akan mendapati ruang utama masjid yang disebut 'narpati'. Atap masjid disangga kayu-kayu jati berusia ratusan tahun. 

Kini adzan pitu terus dilestarikan oleh Pemerintah Kota Cirebon dan Keraton Kasepuhan. Pada masa lalu, adzan pitu dilakukan setiap shalat lima waktu, namun sekarang hanya dilakukan saat shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.